Posts from the ‘I LOVE QUR’AN’ Category

Manhaj Tadabbur (Metode Merenungkan Kandungan) Al-Qur’an yang Benar Sesuai Pemahaman Salafus-Shalih (bagian ke-2, selesai)

bunga-1
FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNJANG KEBERHASILAN TADABBUR

1. BAHASA ARAB: Karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab (QS 12/2), al-Hadits pun demikian pula, begitupun kitab Tafsir dan berbagai ilmu syari’ah.
in uriidu illal Ishlaaha mas ta’tho’tu .
2. NAHWU dan SHARAF: Karena makna kata berubah dan berbeda tergantung pada i’rab-nya, maka seorang da’i harus memahaminya. E.g: Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulamaa artinya sangat berbeda dengan Innamaa yakhsyallahu min ‘ibaadihil ulamaa.

3. BALAGHAH: Ma’aaniy, Bayaan, Badii’ Sebab dengan inilah kita bisa merasakan mu’jizat Qur’an, semakin diperdalam maka semakin dahsyat I’jaz-nya.

4. QIRA’AAT: Tentang bagaimana melafazhkan al-Qur’an, dan sebagian qira’aat menafsirkan qira’aat yang lainnya. Yang mutawattir ada 7 riwayat, yang lain menyebutkan 14 riwayat.

5. USHUL FIQH: Untuk mengenal bagaimana meng-istinbath dalil dan hukum-hukumnya. E.g: al-Ibrotu bi’umuumil lafzhi, laa bikhushuushi as-sabaab.

6. ASBAB NUZUL: Sehingga kita dapat melihat secara jelas konteks ayat tersebut. Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan: Fahmus sabab yuuritsu fahmil musabbab. E.g: Bagaimana shalat sunnah dikendaraan: Fa aina tuwalluu fatsamma wajhullah.

7. NASIKH – MANSUKH: Yang menolak Nasikh & Mansukh hanyalah Yahudi, Syi’ah dan Mu’tazilah (As-Suyuthi). Yahudi menolak karena takut agamanya dinasakh oleh Islam, padahal mereka mengakui bahwa agama mereka menasakh syari’at Adam as (boleh nikah dengan saudara sekandung). E.g: QL = wajib (qum) tetapi dinasakh dengan ayat setelahnya (faqra`uu maa tayassara).

METODOLOGI TADABBUR YANG BENAR

1. AL-QUR’AN dengan AL-QUR’AN: Karena al-Qur’an saling membenarkan ayat-ayatnya, dan saling menafsirkan satu sama lain. Hal-hal yang disebutkan secara umum dalam suatu ayat, maka rinciannya ada dalam ayat yang lain, sesuatu yang muthlaq dalam sebuah ayat menjadi muqayyad dalam ayat yang lain, ayat yang umum dikhususkan dalam ayat lainnya. E.g: Nabi SAW menafsirkan ayat 6/82 dengan 31/13.

2. AL-QUR’AN dengan AS-SUNNAH: Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Jika tidak kamu temui tafsirnya dalam ayat yang lain, maka tafsirkan dengan sunnah, karena ia merupakan syarah dari al-Qur’an dan penjelasannya (taudhiihah)”. E.g: 10/26 ditafsirkan oleh Nabi SAW az-Ziyaadah yaitu melihat Allah SWT.

3. Memperhatikan pendapat SHAHABAT R.A.: Jika shahih dari mereka maka hendaklah kita ambil, karena al-Qur’an turun ditengah-tengah mereka, mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sebab-sebab turunnya, bahasa Arab merekapun lebih asli, kefahaman merekapun lebih bersih, keimanan merekapun lebih sempurna, kejujuran merekapun lebih teruji. Dengarlah perkataan Ibnu Mas’ud ra tentang kefahamannya atas al-Qur’an: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya tidak satupun ayat yang turun kecuali aku mengetahui tentang apa ayat itu turun dan kapan ayat itu turun apakah dimusim panas atau dimusim dingin, pada pagi hari atau sore hari, dan jika aku mengetahui ada orang yang lebih tahu dariku tentang suatu ayat maka akan kupacu kudaku kepadanya (untuk belajar).”

4. Merujuk kepada BAHASA ARAB FUSHAH: Asy-Syu’araa’/195, maka wajib bagi kita (dengan tidak melupakan item diatas) merujuk artinya kepada bahasa Arab, kesesuaian dengan qawaa’id-nya, dan sesuai dengan balaghah dan I’jaz-nya.

Sungguh tak akan kembali jaya ummat ini, kecuali jika mereka kembali mengikuti salafus-sholihin yang pernah berjaya dahulunya .

In uriidu illal Ishlaaha mas ta’tho’tu .

MARAJI’:

1. Mabaahits fii uluumil Qur’an, DR. Manna’ Khalil al-Qaththan.

2. Mauqiiful Muslim min Mashdaaril Awwal, DR. Yusuf al-Qardhawi.

3. Fal natazawwad minal Qur’aan, Sayyid Quthb.

4. Nazharaat fii Kitaabillah, Hassan al-Banna.

5. Min Baghiyyah al-Quraan fii Wazhaaif Ramadhaan, Ibnu Rajab al-Hanbali.

6. Manhaaj Tafsiir al-Qur’aan (Taujih Internal).

Advertisements

Manhaj Tadabbur (Metode Merenungkan Kandungan) Al-Qur’an yang Benar Sesuai Pemahaman Salafus-Shalih (bagian ke-1)

2Oleh: Abu Abdullah

MUQADDIMMAH

* QS 47/24: Hati manusia tertutup jika tidak merenungkan kandungan/menganalisa al-Qur’an
* QS 37/29: Al-Qur’an diturunkan agar dianalisa isinya, dan agar para ulil-albab selalu ingat.
* QS 41/53: Allah akan membuktikan bahwa semua ucapan-NYA benar secara ilmiyyah pada suatu waktu.

Semua ayat yang ada dalam al-Qur’an adalah hidayah yang terbaik, kata-kata yang paling mulia, kisah yang paling tinggi, teman yang paling jujur dan da’i yang paling alim dan sempurna. Oleh karena itu Ibnu Mas’ud ra berkata: “Jika kalian mendengar Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman ., maka dengarkanlah dengan sebaik-baiknya, karena perintahnya adalah sebaik-baik perbuatan yang harus kalian lakukan, dan larangannya adalah seburuk-buruk bahaya bagi kalian semua!”

URGENSI TADABBUR DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Kenyataan ummat Islam saat ini banyak yang menjauhi al-Qur’an akibat mengikuti kebiasaan-kebiasaan ummat non muslim, sebagaimana hadits:

“Dari Abu Hurairah ra: Bersabda Nabi SAW: Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai seandainya mereka masuk kedalam lubang Biawak, maka kalianpun akan mengikuti juga.” (HR Ibnu Majah, hadits no. 3994)

Wujud-wujud Penyakit Ummat Terdahulu:

1. UMMI (tidak dapat membaca dan memahami kitab mereka)

Penyakit inilah yang pernah menimpa para ahli Kitab ( QS 2:78 ).

– Kata Ibnu Katsir: Arti ayat ini adalah tidak mengetahui tentang Kitab dan isinya.

– Kata Mujahid ra: Yaitu orang ahli Kitab yang sama sekali buta dan tidak memahami Kitab mereka dan mereka bicara tentang Kitab mereka hanya sangkaan dan kira-kira tanpa didasari hukum-hukum ALLAH. Lalu mereka katakan bahwa pikiran-pikiran mereka itu dari al-Kitab.

– Kata Ibnu Abbas ra: Mereka yang membaca tanpa mengetahui apa arti yang dibaca.

2. BERIMAN SECARA PARSIAL ( QS 2:84-86 )

– Sebagaimana orang Yahudi yang beriman pada sebagian isi al-Kitab tetapi menolak sebagian yang lain ( QS 2:85 ), atau juga orang Nasrani (QS 15:90-91).

– Kata Ibnu Katsir: Dalam ayat ini ALLAH menolak orang Yahudi Madinah yang saling membunuh diantara kelompok mereka jika terjadi peperangan.

– Kata Ibnu Abbas ra (tentang QS 15:90-91): Mereka adalah orang Yahudi ahli Kitab yang hanya mau beriman pada sebagian saja isi Kitab tetapi menolak yang lain.

3. BANGGA PADA SELAIN MANHAJ ALLAH

a) Pada warisan-warisan Jahiliyyah (QS 2:170-171).

– Berkata Ibnu Katsir: maksudnya adalah sifat-sifat orang-orang kafir musyrikin Mekkah.

– Kata Ibnu Abbas ra: Ayat ini turun tentang sebagian orang Yahudi yang saat diajak beriman oleh Nabi SAW, mereka menjawab: Kami hanya akan mengikuti nenek-nenek moyang kami.

b) Pada manhaj/sistem buatan manusia (QS 17:73-77)

– Seperti dimasa Fir’aun dan para Thaghut dimasa kini.

4. TIDAK MENGETAHUI KITAB DAN MENYAMAKANNYA DENGAN CERITA-CERITA KUNO (QS 25; 4-6)

– Sebagaimana yang dilakukan oleh An-Nadhar bin Harits saat menyanggah dakwah Nabi SAW (QS 8:31).

5. MENINGGALKAN AL-QUR’AN ( QS 25:30-31 dan 41:26-28 )

– Orang-orang musyrik tidak mengacuhkan bacaan al-Qur’an dan jika mereka mendengarnya maka mereka bermain-main dan berbicara, lebih tertarik pada lagu-lagu, sya’ir-sya’ir dan pendapat-pendapat, sehingga mereka tidak mendengarnya. ( QS 41:26-28 )

6. CINTA DUNIA DAN SENANG DI DALAMNYA (75:17-21 dan 14:1- )

7. SALAH MENERAPKANNYA

– Misalnya banyak dibaca untuk mendapat uang, untuk simbol-simbol seremonial semata, untuk orang yang sudah mati saja, dan sebagainya. (h)

(Bersambung Insya ALLAH..)

Sumber: al-ikhwan

Tahapan Berinteraksi dengan Al-Qur’an (Bag. 2)

6. Adakah keinginanku untuk menghafal Al-Qur’an?

‘Ya Allah, ingatkan aku bila ada ayat yang aku lupa mengingatnya.’

Tausiyah al-ustadz:
Dengan menghafal Al-Qur’an, jiwa dan otak kita akan terus menyerap lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang diulang-ulang begitu banyak oleh lidah kita.

7. Apakah aku sudah rutin membaca tafsir atau menghadiri majlis tafsir agar memahami ayat-ayat Al-Qur’an?

Tausiyah al-ustadz:
Pemahaman kìta terhadap Al-Qur’an akan sangat membantu dalam proses mentadabburi Al-Qur’an, sehingga selalu melahirkan energi baru dalam menghadapi berbagai problema kehidupan.

8. Siapkah aku menjadi manusia Qur’ani?

Tausiyah al-ustadz:
Inìlah tahapan yang cukup tinggi dimana manusia dituntut untuk menjadikan seluruh sendi kehidupan kita- baik pemikiran, perhatian, rumah tangga, pendidikan, ekonomi, politik, negara dsb- disesuaikan dengan Al-Qur’an.

9. Siapkah aku untuk berjihad di jalan Allah?

‘Ya Allah, jadikan setiap langkah kakiku adalah jihad di jalan-Mu.’

Tausiyah al-ustadz:
Jihad fii sabiilillah inilah puncak berinteraksi dengan Al-Qur’an.
***

Tausiyah oleh ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafizh, Lc.

Tahapan Berinteraksi dengan Al-Qur’an (Bag. 1)

1. Sudah berimankah aku terhadap kebenaran Al-Qur’an?

‘Ya Allah, dengan Al-Qur’an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepadaku. Jadikan Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, hidayah dan sumber rahmat bagi hamba.’

2. Sudah mampukah aku membacanya?

Sejak balita aku mulai belajar a ba ta tsa, Alhamdulillah sekarang sudah mampu membaca Al-Qur’an.

Tausiya al-ustadz:
Langkah ini sangat penting karena merupakan golden gate (pintu gerbang emas) untuk memasuki alam Al-Qur’an.’

3. Jika sudah mampu membacanya, mampukah aku membacanya dengan baik sesuai dengan makhraj, sifat dan ahkamnya?

Sejak SD aku sudah lancar membaca Al-Qur’an sampai umurku 20-an tahun rasanya aku semakin lancar bacaannya. Sehingga aku merasa optimis bisa masuk level pertengahan setidaknya saat testing penempatan level di Ma’had Al-Qur’an program tahsin tilawah. Eh, ternyata lancar saja tidak cukup tetapi harus sesuai dengan makhraj, sifat dan ahkamnya. Jadilah aku belajar mulai level awal, tidak mengapa agar aku bisa belajar mulai dari kesalahan umumnya orang dalam membaca Al-Qur’an.

‘Alhamdulillah, Engkau telah memberiku kesempatan memperbaiki bacaan Al-Qur’an.’

Tausiyah al-ustadz:
Suatu hal yang naif jika kita membaca Al-Qur’an, yang diturunkan dalam bahasa Arab, tetapi kita tidak termotivasi untuk membaca sesuai dengan pengucapannya yang tepat, maka diperlukan bertalaqqi kepada seorang ustadz tahsin tilawah.

4. Jika sudah membacanya dengan baik, sudahkah aku membacanya rutin setiap hari? 1 juz sehari? khatam 12 kali setahun?

‘Ya Allah, karuniakan padaku kenikmatan membacanya sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari, Jadikan Al-Qur’an bagiku sebagai hujjah, ya Rabbal ‘Älamiin.’

Tausiyah al-ustadz:
Berbahagialah bagi yang sudah rutin mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali. Ketahuilah, jika fase ini saja tidak termotivasi ingin bisa, maka betapa jauhnya perbedaan derajat diri kita dengan salafush shalih, yang pada umumnya mampu khatam sepekan sekali, bahkan tiga hari sekali.

5. Jika sudah rutin, apakah
kebiasaan membaca Al-Qur’an menambah bobot iman dan islamku? meningkatkan loyalitas terhadap Allah swt, Rasul-Nya dan Al-Qur’an?

‘Wahai Yang Maha membolak-balikan hati, teguhkan hatiku dalam agama-Mu, teguhkan hatiku dalam taat kepada-Mu.’

Tausiyah al-Ustadz:
Loyalitas kita terhadap Allah swt, Rasul-Nya dan Al-Qur’an menghasilkan energi untuk membela al-Islam.

Bersambung ke tahap ke-6.

Aktivitas Bersama Al-Qur’an

Rasanya, masih jauh diriku dari berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sesungguhnya. Interaksiku bersama Al-Qur’an masih sebatas membaca dan menghafal (hafalannya baru dikit sih).

Menurut Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Al-Hafizh, Lc. (beliau adalah seorang hafizh Al-Qur’an yang rutin menjadi imam Qiyamullail Ramadhan di masjid Habiburrahman tempat favorit untuk i’tikaf Ramadhan di Bandung), dalam bukunya beliau menyimpulkan dari mukadimah surat Al-An’am tafsir Fii-Zhilalil Qur’an karya Syaikh Sayyid Quthb, maksud dari berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah seseorang harus memiliki hubungan dengan Al-Qur’an disertai dengan aktivitas sebagai berikut:
1. Rajin membacanya.
2. Rajin mengkaji isi dan ilmu-ilmunya.
3. Hidup dalam suatu kondisi dimana aktivitas, upaya, sikap, perhatian dan pertarungan sebagaimana kondisi dimana pertama kali Al-Qur’an diturunkan.
4. Hidup bersama Al-Qur’an dengan sepenuh hati dan berkeinginan untuk beraktivitas melawan tradisi jahiliyah yang saat ini menyelimuti seluruh sendi kehidupan umat manusia.
5. Membangun nilai-nilai Al-Qur’an di dalam dirinya, masyarakat dan seluruh umat manusia.
6. Siap menghadapi dan memberantas segala macam pemikiran jahiliyah serta seluruh tradisinya di dalam realitas kehidupan.

Walau masih jauh dari standar tersebut, tapi aku harus optimis bisa melakukannya, dimulai dari upaya sekecil-kecilnya.

Upayaku mengisi file suara dengan murotal Al-Qur’an syaikh Haniy Ar-Rafai untuk walkman di handphoneku semoga menambah interaksiku dengan Al-Qur’an.

‘RABBIY BERIKAN AKU KEMAMPUAN UNTUK ISTIQOMAH BERSAMA AL-QUR’AN AGAR AKU DAPAT MERASAKAN KEINDAHAN
AL-QUR’AN’

Mendapat Kedudukan Tinggi dengan Memperbanyak Tilawah

Ingin sekali aku masuk dalam golongan orang-orang yang akan bersama-sama malaikat yang mulia dan taat karena di dunia mahir membaca Al-Qur’an. Selain itu, Allah pun memberikan kedudukan yang tinggi karena di dunia banyak membaca Al-Qur’an. Untuk itu, aku memotivasi diri agar lebih banyak tilawah Al-Quran.

Mengikuti halaqah (pembinaan ruhiyah dalam kelompok kecil) adalah salah satu caraku memotivasi diri untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, termasuk tilawah (membaca) Al-Qur’an. Murobbiku (pembina) menyarankan agar tilawah Al-Qur’an sebanyak 1 Juz per hari agar khatam (tamat) setiap bulan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada ‘Abdullah bin ‘Amr ra.: “Bacalah (tamatkanlah) Al-Qur’an sekali sebulan.”Berkata perawi, “Saya berkata (‘Abdullah): ‘Saya sanggup (melakukan) kurang dari satu bulan.’”Beliau bersabda: “Selesaikan selama dua puluh hari.”Berkata perawi, “Saya berkata: ‘Saya sanggup kurang dari dua puluh hari.’” Beliau bersabda:
“Selesaikan dalam sepekan,dan jangan engkau lebihkan
bacaanmu lagi (sehingga waktunya menjadi kurang dari sepekan).”(HR. Bukhari&Muslim)
Menurut riwayat lain,“Kemudian beliau (Nabi saw) memberi ia (‘Abdullah) keringanan hingga ia boleh menyelesaikan dalam lima hari.”(HR. an-Nasai & Tirmidzi) dan riwayat lain lagi,“Kemudian beliau memberi ia keringanan hingga ia boleh menyelesaikannya dalam tiga hari.”(Bukhari & Ahmad)

Karena itu, aku pun mencoba tilawah 1 Juz/hari dengan cara dicicil yaitu 2 lembar (1/5 Juz) setiap selesai shalat 5 waktu. Baru sebatas itu yang sanggup kulakukan, sungguh
masih jauh
dari kemampuan sahabat Rasul saw.

Bagiku, untuk dapat tilawah 1 Juz/hari dengan istiqomah bukan tanpa hambatan karena selalu ada musuh (syaithon laknatullah) yang tidak menghendaki manusia istiqomah dalam ibadah. Karena itu, memohon perlindungan kepada Allah swt adalah suatu keharusan bagi setiap muslim dalam seluruh aspek kehidupannya. Terlebih lagi ketika hendak
membaca Al-Qur’an sebagaimana perintah Allah swt dalam surat An-Nahl ayat 98:
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”


Menurut ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafizh, Lc. dalam bukunya-17 Motivasi Berinteraksi dengan Al-Qur’an- menuliskan: Jika kita menyimpulkan penafsiran Imam Ibnu Qayyim terhadap ayat di atas, maka tidak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan setan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al-Qur’an.

Motivasi Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Saat di Ma’had Al-Qur’an dulu-di Bandung-aku mulai mengetahui keutamaan-keutamaan tilawah Al-Qur’an dan membuatku termotivasi untuk memperbaiki interaksiku dengan Al-Qur’an.

Di antara keutamaannya adalah:

1. Mendapat syafa’at di hari kiamat.

Dari Abi Amamah ra, ia berkata:“Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda:’Bacalah oleh kamu sekalian Al-Qur’an,karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi para pembacanya.’”(Hadits Riwayat Muslim)

2. Mendapat derajat yang tinggi.

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata:“Telah bersabda Rasulullah saw:’Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir, akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat, dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa berat,maka dia mendapat dua pahala.’”(HR. Bukhari)

3. Merupkan ciri keimanan seseorang.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, ia berkata:“Telah berkata Rasulullah saw: ‘Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Qur’an,bagaikan buah utrujah,harum baunya dan lezat rasanya.Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an,bagaikan buah kurma,tidak harum dan rasanya manis.Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an,bagaikan bunga, harum baunya dan pahit rasanya.Dan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzholah,tidak harum dan rasanya pahit.’”(HR. Bukhari dan Muslim)

4. Allah akan mengangkat derajatnya.

Dari ‘Umar bin Khathab ra, ia berkata:“Telah bersabda Rasulullah saw: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan kitab ini, mengangkat beberapa kaum dan merendahkan kaum lainnya.’”(HR. Muslim)

5. Mendapatkan kebaikan.

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata:“Telah bersabda Rasulullah saw:’Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah,maka baginya satu kebaikan,dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan.Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.’”(HR. Tirmidzi)

6. Mendapatkan kedudukan yang tinggi pada hari kiamat.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan Ibnu ‘Ash ra,dari Nabi saw:“Dikatakan kepada pembawa Al-Qur’an:’Bacalah dan naikla, bacalah sebagaimana kamu membaca di dunia,maka sesungguhnya (tingginya) kedudukan (dicapai) pada akhir ayat yang kamu baca.’”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan An-Nasa-i)

7. Terhindar dari kehancuran.

Dari Ibnu ‘Abas ra,ia berkata:“Rasulullah saw,bersabda:’Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun dari Al-Qur’an pada rongga mulutnya bagaikan rumah yang rapuh.’”(HR.Tirmidzi)

😀