DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar
Wednesday, 23 July 2008
Pengantar

Ini adalah kisah tentang suami istri yang shaleh. Kelaparan menimpa mereka berdua, lalu si istri berdoa kepada Allah agar merizkikan sesuatu yang bisa mengusir rasa lapar dan menutupi hajatnya. Maka Allah memberikan rizki sebagaimana dalam hadis ini.

Teks Hadis

Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dan Baihaqi dalam Ad-Dalail dari Abu Hurairah ia berkata, “Seorang laki-laki tertimpa kelaparan, lalu dia pergi ke daratan. Istrinya pun berdoa, “Ya Allah limpahkanlah rizki-Mu kepada kami apa yang cukup untuk menjadi adonan kami dan roti kami.” Ketika suaminya pulang, nampannya penuh dengan adonan dan di atas tungku terdapat daging yang siap dimasak serta penggilingan mereka bekerja menggiling. Suami bertanya, “Dari mana semua ini?” Istri menajwab, “Rizqi dari Allah.” Maka dia menyapu apa yang ada di sekeliling penggilingan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Seandainya dia membiarkannya niscaya penggilingan itu akan berputar atau menggiling sampai pada hari kiamat.”

Takhrij Hadis

Hadis ini disebutkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (6/1051), no. 2937.

Dia menisbatkannya kepada Thabrani dalam Mu’jamul Ausath dalam Ad-Dalail, Bazzar dalam musnad-nya, Ahmad dalam musnad-nya. Dia menyebutkan ucapan Al-Haitsami tentangnya dalam Majmauz Zawaid, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Bazzar, Thabrani dalam Al-Ausath dengan riwayat yang senada, rawi-rawinya dalah rawi-rawi hadis shahih, selain Syaikh Bazzar dan Syaikh Thabrani, dan keduanya adalah tsiqqah.”

Penjelasan Hadis

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menceritakan sepasang suami istri yang shalih. Keduanya dalam keadaan sangat lapar. Saking laparnya, suaminya tidak tahan berdiam di rumah. Diapun keluar ke daratan. Lalu si istri berdoa kepada Allah agar memberinya rizki sebuah penggilingan dan memberinya adonan untuk membuat roti. Allah mengabulkan doanya. Ketika suaminya pulang, nampan besar yang biasa digunakan untuk mengaduk adonan telah penuh dengan adonan, dan penggilingan terus berputar menggiling biji-bijian, sementara di atas tungku terdapat daging yang melimpah siap untuk dimasak.

Suaminya bertanya, “Dari mana ini?” Istrinya menjawab, “Dari rizki Allah.” Lalu suaminya menyapu remahan di sekeliling penggilingan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan bahwa seandainya laki-laki ini membiarkan penggilingan bekerja, niscaya ia terus bekerja sampai hari kiamat.

Mungkin ada yang tidak percaya kepada kisah seperti ini dengan alasan karena tidak masuk akal. Orang yang seperti ini, dia lupa bahwa itu adalah rizki Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih sebagai karamah bagi mereka dan Alah berkuasa atas segala sesuatu. Dan hal seperti itu sudah sering terjadi di banyak peristiwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para sahabatnya, di mana Allah melimpahkan makanan dan minuman, lalu mereka makan dan minum dari makanan dan minuman yang hanya cukup untuk sedikit orang saja.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
Adanya karamah bagi hamba-hamba Allah yang shalih. Hal ini ditetapkan oleh banyak dalil yang sampai pada tingkat mutawatir, dan beriman kepada karamah para wali termasuk akidah ahlus sunah wal jamaah. Akan tetapi karamah hanya terjadi pada para wali yang benar-benar bertaqwa. Sesuatu yang di luar batas kewajaran mungkin saja terjadi pada orang terusak di muka bumi ini, dan di antaranya adalah dajjal yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak boleh memberitakan karamah seorang hamba Allah kecuali diyakini kebenarannya atau dengan kesaksian atau penglihatan. Banyak sekali dusta dalam hal ini dari para pembual dan pendusta yang memainkan akal manusia. Mereka mengklaim secara dusta karamah untuk diri mereka atau syaikh mereka.
Besarnya keuatamaan doa. Allah telah mengabulkan doa wanita ini. “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (Ghafir: 60).

Adanya orang shalih pada zaman umat terdahulu.

Dari hadis ini kita mengetahui bahwa manusia sejak dulu telah mengenal adonan dan roti. Mereka mengenal penggilingan untuk menghaluskan biji-bijian, nampan untuk adonan, dan cetakan untuk membuat dan mematangkan roti.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 215-217.

***

Sumber:

alislamu

Advertisements