7Tiga Potensi Manusia
Setiap manusia yang terlahir di dunia ini diberi potensi yang sama. Ada tiga potensi yang diperoleh manusia yaitu fisik (jasmani), akal dan hati (ruhani). Ketiga potensi ini saling menguatkan satu sama lain. Jika ketiga potensi ini dikelola dengan baik maka setiap individu menjadi manusia yang kuat.

Manusia-manusia kuat dalam suatu keluarga dapat membentuk keluarga yang kuat. Manusia-manusia kuat dalam suatu masyarakat dapat membentuk masyarakat yang kuat. Dan Manusia-manusia kuat dalam suatu bangsa dapat membentuk bangsa yang kuat dan akhirnya peradaban dunia yang kuat.

Pada kenyataannya, tidak semua individu mau mengelola ketiga potensinya dengan baik. Ada yang rajin mengelola fisiknya tetapi tidak mau mengelola akal dan hatinya. Ada yang mau mengelola fisik dan akalnya tetapi membiarkan hatinya kotor, sakit atau bahkan mati.

Seorang wanita yang dikaruniai kecantikan dan penampilan yang seolah sempurna kemudian ia menghabiskan waktunya untuk merawat fisiknya agar tetap terlihat cantik sampai ia tidak mau mengelola akal dan hatinya, maka bisa jadi suatu saat ia akan tersiksa dengan keindahan fisiknya dan bisa menjadi stres. Lebih mengkhawatirkan lagi jika sampai menggelincirkan dirinya ke jurang kenistaan karena gemar memamerkan keindahan fisiknya.

Seorang yang pintar, yang rajin mengelola akalnya bahkan sampai bergelar doktor jika tidak mau mengelola hatinya, maka ia bisa menjadi penipu, koruptor, atau perampok.

Seorang yang rajin mengelola hatinya dengan banyak beribadah sampai ia tidak mempedulikan kesehatan fisiknya dan tidak disertai mengelola akalnya dengan belajar, maka ia menjadi seorang yang lemah, mudah sakit dan tata cara ibadahnya pun tidak sesuai tuntunan, akibatnya amal ibadahnya pun tertolak.

Jika salah satu potensi pada setiap individu tidak dikelola dengan baik mustahil menjadi manusia yang kuat apalagi jika dua potensi sekaligus yang tidak dikelola, pastilah menjadi manusia yang lemah tanpa guna. Akibatnya bangsa pun menjadi lemah dan terpuruk.
Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Alloh
daripada mu’min yang lemah.

Suatu negara dengan jutaan penduduknya memiliki potensi yang besar untuk maju dan menjadi negara yang kuat. Tetapi, pada kenyataanya di Indonesia dengan jutaan penduduknya masih juga terpuruk padahal jutaan orang pintar bergelar sarjana sampai doktor ada di Indonesia. Hal ini mungkin berkaitan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang umumnya masih memfokuskan pada salah satu potensi saja, yaitu akal.

Integrasi Tiga Potensi dalam Pendidikan

Optimis!!!
Bangsa Indonesia akan menjadi kuat dengan pengelolaan ketiga potensi besar tersebut melalui pendidikan terintegrasi antara fisik, akal dan hati baik di rumah sekolah atau lingkungan masyarakat.

Pendidikan fisik
Pendidikan fisik tidaklah cukup dengan hanya mengikuti pelajaran olahraga di sekolah selama 2 jam pelajaran dalam sepekan. Pendidikan fisik yang juga perlu diperhatikan adalah pola makan. Pola makan yang benar harus diajarkan kepada anak-anak sejak dini baik di rumah maupun di sekolah.

Pada umumnya, anak-anak gemar ngemil jajanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamat) karena terasa enak di lidah walaupun gizinya rendah. Jajanan tersebut mudah didapat karena selalu tersedia di warung-warung, toko-toko atau minimarket di sekitar rumah atau di kantin sekolah dengan berbagai variasi. Padahal, seperti kita telah ketahui bersama bahwa MSG yang berlebihan di dalam tubuh dapat melemahkan kerja sel-sel otak. Di samping itu, anak-anak juga gemar ngemil makanan yang mengandung zat warna sintetis dan gula seperti permen yang umumnya rendah gizi.

Sudahkah para orang tua dan pendidik mengingatkan anak-anaknya tentang bahaya mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG dan zat warna sintetis secara berlebihan? Dan sudahkah menganjurkan anak-anaknya makan makanan sehat?

Pendidikan pola makan sehat dapat dilakukan dengan cara:
Pertama, orang tua atau pendidik memberikan teladan dalam menjalankan pola makan yang sehat karena anak akan mencontoh apa yang dilakukan orang tua atau pendidiknya.
Kedua, biasakan anak-anak makan sayur dan buah sejak bayi di atas 6 bulan karena pada usia bayi/balita memori anak masih kuat sehingga kebiasaan ini dapat terus berlangsung sampai dewasa. (Tuti Soenardi, ahli gizi dan Ketua Yayasan Gizi Kuliner Jakarta).
Ketiga, sajikan sayuran dengan tampilan yang menarik sehingga anak tergerak untuk mencobanya.
Keempat, jangan membiasakan memberi hadiah atau menjajani anak dengan permen, cokelat, snack yang banyak mengandung MSG.
Kelima, jelaskan kepada anak tentang pentingnya makanan sehat untuk perkembangan sel-sel otaknya dan kekuatan tubuhnya dari serangan penyakit. Dan masih banyak lagi caranya.

Di samping pendidikan pola makan, ajarkan juga pendidikan olahraga. Pendidikan olahraga dapat dilakukan dengan teknik brain gym, yaitu gerakan menyilang antara kaki dan tangan, diantaranya:
Pertama, gerakan jalan di tempat.
Kedua, mengangkat tangan kanan dan kaki kiri bersamaan dan sebaliknya.
Ketiga, mengangkat kaki kanan dengan menyentuhkan telapak tangan kiri ke lutut dan sebaliknya.
Gerakan menyilang gunanya untuk menyeimbangkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dan banyak lagi gerakan lainnya, untuk panduan lebih lengkap, para orang tua atau pendidik dapat membaca buku tentang brain gym.

Pendidikan Akal
Setelah fisik diolah dengan baik maka akal pun siap bekerja untuk berpikir. Berpikir dapat menstimulus sel-sel otak untuk bersambungan satu sama lain. Sehingga daya ingat menjadi baik.

Keadaan fisik anda mempengaruhi kemampuan daya ingat anda.
(Douglas J.Herrmann, “Daya Ingat Super”)

Sebaik-baik pendidikan akal adalah dengan memikirkan penciptaan alam raya ini karena dari kegiatan itulah pelajaran diperoleh. Alam raya ini adalah ayat-ayat Alloh Tuhan Semesta Alam yang harus diperhatikan atau direnungkan (dipikirkan).

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (Q.S. Shaad, 38:29)

Alam raya ini menjadi sumber belajar yang luar biasa. Mata pelajaran di sekolah sampai perguruan tinggi semua berkaitan dengan alam raya ini. Sangat disayangkan jika pembelajar tidak memanfaatkan akalnya untuk berpikir tetapi hanya menghafalnya tanpa perenungan dan juga sangat disayangkan jika pendidik tidak mendorong anak didiknya untuk berpikir secara mendalam (deep thinking).

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?
Alloh tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.
Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya ( Q.S. Ar-ruum,30:8 )

Berpikir secara mendalam maksudnya adalah memikirkan atau merenungkan penciptaan alam raya ini sehingga mendapatkan pelajaran yang bermanfaat Tidak perlu tempat yang sunyi, sendiri dan jauh dari keramainan untuk berpikir secara mendalam. Kapanpun dan di manapun berpikir secara mendalam dapat dilakukan, asalkan ada kemauan.

Seorang pendidik di rumah (orang tua) dapat memulai mengajarkan anaknya berpikir secara mendalam sejak anaknya bangun tidur. Misalnya, ajarkan anak untuk membaca doa bangun tidur beserta terjemahnya. Kemudian terangkan bahwa kita bisa bangun dari tidur atas kehendak Alloh Yang Maha Kuasa. Bisa saja manusia tidur tanpa bangun kembali dengan kehendak Alloh. Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur saat kita bangun dari tidur dengan mengucapkan do’a.
Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepadanyalah kami akan kembali.

Seorang pendidik di sekolah dapat mendorong anak didiknya untuk berpikir secara mendalam ketika menerangkan suatu materi pelajaran. Misalnya, ketika mempelajari tubuh, terangkan mengapa rambut kepala bisa terus memanjang sedangkan bulu mata tidak? Alloh Yang Maha Kuasa menciptakan tubuh dengan desain yang sempurna, jika bulu mata seperti rambut kepala yang terus memanjang akan merepotkan kita karena menghalangi pandangan mata kita. Maha suci Allloh, maka bersyukurlah atas penciptaan yang sempurna ini.

Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan pada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif.
(Harun Yahya, “Deep Thinking”)

Pendidikan Hati
Berpikir secara mendalam bertujuan mengenal siapa penciptanya, mengenal siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. Dengan mengenal penciptanya berarti mereka mengenal Alloh (ma’rifatulloh).

Bagi seorang muslim, ma’rifatulloh adalah bekal untuk meraih prestasi hidup setinggi-tingginya. Sebaliknya, tanpa ma’rifatulloh tidak mungkin seorang muslim memiliki keyakinan dan keteguhan hidup.(Abdullah Gymnastiar, ”Aku Bisa”)

Ma’rifatulloh adalah pondasi yang harus ditanamkan dengan baik dalam diri. Orang yang berusaha mengenal Alloh akan merasakan kedekatan dengan Alloh maka hijab (penghalang) antara dirinya dengan Alloh akan semakin tipis dan akhirnya terbuka sehingga ia akan diberi penglihatan hati yang benar. Kemudian ia akan merasakan perubahan pribadi, keluarga maupun masyarakat. Inilah sebenarnya pendidikan hati (ruhani), yaitu diawali dengan ma’rifatulloh.

Dengan mengenal Alloh akhirnya akan tumbuh keyakinan (iman) kepada-Nya. Pupuklah iman dengan ilmu dan amal agar menjadi pribadi yang kuat dan mulia. Kuat mengadapi segala ujian hidup baik ujian diberi kelapangan/kebahagiaan maupun ujian kesempitan/kesedihan.

Hati yang dikelola dengan baik akan melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia.

Belajar dan beribadah dalam kondisi fisik yang sehat adalah syarat untuk membangun kekuatan bangsa. Oleh karena itu integrasi fisik, akal dan hati dalam pendidikan anak bangsa sangat diperlukan.
Wallohu a’lam.

Advertisements