Rasanya, masih jauh diriku dari berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sesungguhnya. Interaksiku bersama Al-Qur’an masih sebatas membaca dan menghafal (hafalannya baru dikit sih).

Menurut Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Al-Hafizh, Lc. (beliau adalah seorang hafizh Al-Qur’an yang rutin menjadi imam Qiyamullail Ramadhan di masjid Habiburrahman tempat favorit untuk i’tikaf Ramadhan di Bandung), dalam bukunya beliau menyimpulkan dari mukadimah surat Al-An’am tafsir Fii-Zhilalil Qur’an karya Syaikh Sayyid Quthb, maksud dari berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah seseorang harus memiliki hubungan dengan Al-Qur’an disertai dengan aktivitas sebagai berikut:
1. Rajin membacanya.
2. Rajin mengkaji isi dan ilmu-ilmunya.
3. Hidup dalam suatu kondisi dimana aktivitas, upaya, sikap, perhatian dan pertarungan sebagaimana kondisi dimana pertama kali Al-Qur’an diturunkan.
4. Hidup bersama Al-Qur’an dengan sepenuh hati dan berkeinginan untuk beraktivitas melawan tradisi jahiliyah yang saat ini menyelimuti seluruh sendi kehidupan umat manusia.
5. Membangun nilai-nilai Al-Qur’an di dalam dirinya, masyarakat dan seluruh umat manusia.
6. Siap menghadapi dan memberantas segala macam pemikiran jahiliyah serta seluruh tradisinya di dalam realitas kehidupan.

Walau masih jauh dari standar tersebut, tapi aku harus optimis bisa melakukannya, dimulai dari upaya sekecil-kecilnya.

Upayaku mengisi file suara dengan murotal Al-Qur’an syaikh Haniy Ar-Rafai untuk walkman di handphoneku semoga menambah interaksiku dengan Al-Qur’an.

‘RABBIY BERIKAN AKU KEMAMPUAN UNTUK ISTIQOMAH BERSAMA AL-QUR’AN AGAR AKU DAPAT MERASAKAN KEINDAHAN
AL-QUR’AN’

Advertisements